Senin, 01 September 2014

Tidak, Aku Tidak Pernah Ragu

        "Fa, aku serius aku ingin segera menikahimu. Aku seriuss...", ucap pemuda berkopiah krem itu. Baju koko hijau yang dikenakannya nampak sedikit kotor karena bersandar di pohon kelapa. Sementara sarungnya yang biasanya berhiaskan banyak lipatan ngepir di bagian bawahnya itu kini tampak rapi.

     "Kamu masih ragu? Ragu dengan janji Allah? Jangan khawatir dengan rejeki Allah, Fa..", sambungnya, ketika Syifa tak juga bersuara. Lidah Syifa kelu. Hanya matanya yang sesekali menatap jajaran pot di samping rumah sederhana itu, kemudian menebarkan pandangannya ke arah pondasi calon ruang kelas madrasah, mencoba mencari topik lain untuk dibicarakan. Sayang, Syifa gagal.

     "Aku memang orang tak berpunya, hanya ada tanah sempit ini, rumah mungil ini, yang sekarang jadi madrasah untuk anak-anak itu. Kamu ragu?", suaranya semakin terdengar lirih. Entah karena memang lirih atau terbawa angin sore yang berhembus.

     "Tidak. Aku.... tak pernah ragu. Aku akan tetap belajar di sini bersama anak-anak itu", jawab Syifa sekenanya sembari menata beberapa buku kurikulum di keranjang sepedanya.

       "Aku akan menemui orang tuamu, kita menikah", sahutnya.

     "Tapi...", kalimat Syifa terhenti oleh suara sandal anak-anak yang berlarian dari arah tempat wudhu. Pemuda itu segera bergegas melangkah menyambut para jundi berkopiah, sementara para jundiyah berlarian ke arahku. Di belakang mereka berjalanlah tiga ustadzah yang selalu direpotkan dengan berbagai pertanyaan Syifa.

      Mata Syifa teduh menatap wajah polos yang sibuk mengenakan mukena itu. Keceriaan di wajah mereka tak bisa terbayarkan oleh apapun. Entah apa yang menjadikan mereka memilih dan bertahan di sini, sementara tak sedikit yang mencibir. Ah, ada seberkas rasa yang berseliweran di hati Syifa, hampir rumit. Ingin rasanya Syifa menumpahkan semuanya pada Sang Pemilik Nyawaku. Tangan Syifa membelai salah satu dari mereka, berdiri di sampingnya dan diikuti dengan yang lain. Ribuan memori akan hitamnya hari-hari Syifa yang telah lalu, kembali menyelinap. Dada Syifa terasa sesak, perjuangan tak pernah usai. Dihelanya nafas panjang sebelum ia mengeluarkan suara. Berharap sesaknya dada dan kelunya lidah tadi tak mengganggu para jundiyah itu.