Selasa, 14 Oktober 2014

Jilbab Putih Berhias Bunga Keemasan

       Degub jantung Syifa semakin berdebar, seolah mengisi sendiri musik dalam hati tanpa ada alunan bebunyian merdu layaknya di acara pada umumnya. Syifa menunduk menebar pandangannya pada jilbab putih berhias bunga warna emas yang menjuntai hingga hampir menutupi pergelangan tangannya.

         Sesekali Syifa mencoba mencuri pandang ke arah sosok berjas putih yang tengah duduk di samping sebuah meja kecil, bersama beberapa lelaki yang mengitari meja itu, salah satunya adalah yang menjabat tangan sosok berjas putih tadi dan menuntun mengucapkan kalimat pendek. Kalimat pendek yang membuat setetes air bening tak terbendung dari sudut mata Syifa dan meluruh begitu saja menghiasi senyum di wajahnya. Ya, kalimat yang diucapkan oleh pemilik jenggot tipis yang nanti akan memboncengkannya sampai ke rumah dengan sepedanya. Ingin rasanya Syifa tersungkur bersujud syukur saat itu juga, namun tak mungkin ia lakukan itu di hadapan puluhan tamu.

      Kanthi amengku puja barakallahu laka wa baraka 'alaika wa jama'a bainakuma fii khoir, risang temanten sarimbit nulya samya lenggah jajar sumandhing, sesarengan anguningani isining kendhaga kencana sarta kendhaga mulya. Sri temanten wus tunggil tekade saiyeg saeka kapti amangun brayan darmaning tumuwuh rama ibu, para sepuh, warga gotrah, sumawana kadang mitra tuwin ingkang sudi sredha angestreni, samya manembrama mangastungkara mangastuti manungku puji mrih kang tigas kawiwaha pinaringan wilujeng ing donya tuwin akherat, jejeg jumangkah, jajag jumurung kang jinangka, bagya, sumbaga, subagya. Tansaha anyenyandhang tresna kadya sih sutrena Muhammad Sholallahu Alaihi Wassalam tuwin Khodijah, sih sutresna Sayidina Ali tuwin Sayidatina Fatimah, tumuju manunggaling tresna suci Kang Maha Agung, Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

         Alunan suara sang pembawa acara membawa Syifa dan sosok berjas putih itu duduk di satu kursi sederhana berhiaskan bunga di depannya. Senyum merekah dari kedua wajah itu, seolah ingin mengatakan bahwa mereka tengah dibasuh dengan sejuknya rindu dan hangatnya kasih sayang.


Sayang, Syifa hanya bermimpi. Syifa bahkan tidur memeluk desain gamis pengantin impiannya. Ah, Syifa.... Jilbab putih berhias bunga keemasan itu...

Senin, 01 September 2014

Tidak, Aku Tidak Pernah Ragu

        "Fa, aku serius aku ingin segera menikahimu. Aku seriuss...", ucap pemuda berkopiah krem itu. Baju koko hijau yang dikenakannya nampak sedikit kotor karena bersandar di pohon kelapa. Sementara sarungnya yang biasanya berhiaskan banyak lipatan ngepir di bagian bawahnya itu kini tampak rapi.

     "Kamu masih ragu? Ragu dengan janji Allah? Jangan khawatir dengan rejeki Allah, Fa..", sambungnya, ketika Syifa tak juga bersuara. Lidah Syifa kelu. Hanya matanya yang sesekali menatap jajaran pot di samping rumah sederhana itu, kemudian menebarkan pandangannya ke arah pondasi calon ruang kelas madrasah, mencoba mencari topik lain untuk dibicarakan. Sayang, Syifa gagal.

     "Aku memang orang tak berpunya, hanya ada tanah sempit ini, rumah mungil ini, yang sekarang jadi madrasah untuk anak-anak itu. Kamu ragu?", suaranya semakin terdengar lirih. Entah karena memang lirih atau terbawa angin sore yang berhembus.

     "Tidak. Aku.... tak pernah ragu. Aku akan tetap belajar di sini bersama anak-anak itu", jawab Syifa sekenanya sembari menata beberapa buku kurikulum di keranjang sepedanya.

       "Aku akan menemui orang tuamu, kita menikah", sahutnya.

     "Tapi...", kalimat Syifa terhenti oleh suara sandal anak-anak yang berlarian dari arah tempat wudhu. Pemuda itu segera bergegas melangkah menyambut para jundi berkopiah, sementara para jundiyah berlarian ke arahku. Di belakang mereka berjalanlah tiga ustadzah yang selalu direpotkan dengan berbagai pertanyaan Syifa.

      Mata Syifa teduh menatap wajah polos yang sibuk mengenakan mukena itu. Keceriaan di wajah mereka tak bisa terbayarkan oleh apapun. Entah apa yang menjadikan mereka memilih dan bertahan di sini, sementara tak sedikit yang mencibir. Ah, ada seberkas rasa yang berseliweran di hati Syifa, hampir rumit. Ingin rasanya Syifa menumpahkan semuanya pada Sang Pemilik Nyawaku. Tangan Syifa membelai salah satu dari mereka, berdiri di sampingnya dan diikuti dengan yang lain. Ribuan memori akan hitamnya hari-hari Syifa yang telah lalu, kembali menyelinap. Dada Syifa terasa sesak, perjuangan tak pernah usai. Dihelanya nafas panjang sebelum ia mengeluarkan suara. Berharap sesaknya dada dan kelunya lidah tadi tak mengganggu para jundiyah itu.

Sabtu, 31 Mei 2014

Usai Melepas Toga, Keinginanku Hanya Satu

        Kurasa, sudah terlalu lama aku berpetualang dalam duniaku sendiri. Bergelut pada lembaran-lembaran tugas kuliah, merapal notasi gending jawa beserta tembang macapatnya, menulis puisi untuk ditreatrikalkan dalam pentas tahunan, mengirim beberapa naskah dan dimuat di majalah lokal, mengikuti beberapa perlombaan dan menambah koleksi tropi di atas lemari meski banyak yang mulai berkarat, membuat kisah suka-duka bersama sahabat-sahabatku, menggila di kosan dengan mengajak anak-anak kecil belajar di kamar dan membuat gaduh hingga dinding triplek jebol, begadang nonton film ketika sudah suntuk mengerjakan proposal skripsi kemudian gelapan ngeprin di pagi buta dengan printer yang bersuara seperti mesin gergaji, mengantuk menunggu dosen pembimbing, mengayuh sepeda 1jam dari pasar sepeda bekas hingga kosan, pontang-panting hunting dosen pembimbing yang loncat kesana-kemari, dianggap mustahil ketika mengutarakan ganti penelitian, nervous di hari ujian gara-gara kebanyakan makan lotek pedas sejam sebelum ujian dan lidahku masih terasa panas, memaparkan semua hasil penelitian dan mengisahkan perjalanan penelitianku layaknya seorang anak yang sedang menceritakan permainannya seharian kepada ayah-ibunya, mendapat nilai memuaskan ketika lulus, bersikeras tidak mau pakai kebaya di hari wisuda, dibelikan seperangkat make-up untuk belajar bersolek, di pagi buta saat teman-teman kos masih terlelap usai sholat subuh aku bersolek alias berdandan sendiri untuk menghadiri wisuda....

      Ah, terlalu banyak jika harus dikisahkan seluruhnya. Aku rasa, usai melepas toga dan mengembalikannya di kampus, ada sisi kehidupanku yang baru dimulai. Teman-temanku sudah mendapatkan pekerjaan mereka. Kesana-kemari berpenampilan modis atas hasil kerja mereka. Berfoto bersama ketika makan di restoran, rumah makan ternama, atau berwisata ke ini dan itu. Kurasa, aku tak mengalaminya. Atau, aku hampir akan mengalaminya? Ah, saat itu, yang ada di pikiranku hanya satu. Aku ingin menikah.


Rabu, 30 April 2014

Adakah yang Lebih Realistis?

       Matahari perlahan berenang di ufuk timur, sementara kicauan burung pipit di sawah semakin enggan terdengar. Entah karena sudah tak ingin berkicau atau justru takut melihat seorang lelaki berlari di pematang sawah.

        Lelaki itu berhenti tepat di bawah pohon munggur tengah sawah. Seekor burung emprit mengepakkan sayap meninggalkan pohon itu, di susul beberapa burung lain. Lelaki itu menyandarkan tubuhnya di pohon munggur, pohon yang limabelas taun yang lalu menjadi tempat bermainnya bersama teman-temannya. Matanya menerawang jauh, menikmati berkas sinar mentari yang menerpa wajahnya.

    "Kiiiiii....! Ngapain kamu di situu?!!", tiba - tiba terdengar suara memanggilnya. Lelaki itu hanya menengok, membiarkan si pemilik suara tadi berlari ke arahnya.

       "Ngapain di sini? Kamu mau bunuh diri?", tanya si pemilik suara tadi sambil terengah-engah.

          "Bunuh diri?", lelaki itu bingung.

         "Kamu mau naik ke pohon, terus kamu loncat, itu di sana banyak sumur. Iyaa??", suara itu sedikit berubah, meskipun dengan kalimat yang sama. Ya, limabelas taun yang lalu ia paling sering mengucapkan kalimat itu, hanya untuk meminta Fikri turun dari pohon.

        Fikri tersenyum. Dipandangi wajah sosok di depannya itu. Ah, masih polos, sama seperti dulu.

        "Heiii, malah bengong! Piki baik-baik aja?", pandangannya dibuyarkan oleh tepukan di pipinya.

          Fikri kembali tersenyum. "Fa, sampai kapan aku harus menunggu?", Fikri memasang wajah serius.

         "Menunggu apa?"

        "Meminangmu", Fikri melemparkan pandangannya ke hamparan sawah, dimana dulu ia sering bersama kakeknya membersihkan rerumputan di antara batang padi milik tetangga. Semua berakhir ketika sang kakek meninggal saat Fikri mengenakan seragam biru putih. Fikri tak punya siapa-siapa lagi, entah dimana kedua orang tuanya, ia tak pernah tau.

       "Piki, emm... Fikri, maafkan aku. Bukan karena aku tak mau denganmu. Orang tuakuuuu..."

        "Ssstt.... apakah kau mencintaiku?"

    "Apa harus kujawab? Sedangkan aku selalu kewalahan untuk tidak merasakan itu"

       "Tapi aku tak punya apa - apa"

       "Aku tak meminta apa - apa"

       "Aku hanyalah....."

      "Kamu ragu dengan ketentuan Allah?"

       "Realistis lah, Fa... Aku benci keadaanku"

      "Adakah yang lebih realistis daripada ketentuan Allah? Temui lagi orang tuaku"

         "Butuh waktu, hanya saja hatiku....."

       "Bersegeralah. Jika kita tak bisa berhenti mencintai, bersegeralah, atau kita hanya akan menabung keburukan dan membiarkan fitnah membunuh kita"
        Entah apa yang diperbincangkan lagi. Tak ada yang tau. Keduanya seolah tak saling bicara, seperti burung emprit yang semakin enggan berkicau, entah karena takut atau apa. Atau justru keduanya saling berbicara, hanya saja tak ada yang mendengar, hati mereka punya bahasa sendiri. Ya, bahasa yang tak didengar oleh orang lain, bahasa yang tak dimengerti orang lain, bahasa yang tidak membutuhkan aksara.

Minggu, 05 Januari 2014

Syifa Ingin Menikah

        "Fa, jangan melamun lah, masih pagi juga", Putri menyenggol pundak Syifa. Syifa kaget, dengan cepat dilipatnya mukena yang baru saja dia pakai untuk sholat subuh. Tangannya memang lincah melipat mukena, tapi sorot matanya tak bisa berbohong bahwa hatinya sedang menari anggun.
        "Put, kamu pernah nggak sih kepikiran pengen punya suami?", pertanyaan Syifa mengagetkan sahabatnya itu. Putri menghentikan langkah Syifa, menarik tangannya kemudian mengajaknya berbelok ke taman depan asrama.
        "Coba diulang lagi pertanyaanmu", setelah duduk di bangku mungil Putri menatap lekat-lekat sosok Syifa. Ya, Putri merasa Syifa tak seperti biasanya. Sudah beberapa hari ini Syifa memang sering melamun dan senyum-senyum tanpa sebab, ada yang lain pula di sorot matanya.
       "Kamu pernah nggak sih kepikiran pengen punya suami?", dengan santai Syifa mengulang pertanyaannya tadi. Syifa tidak sadar bahwa Putri sedang terheran-heran dengan sikapnya.
       "Kamu butuh puasa, Fa. Yakin!", Putri menepuk-nepuk pipi Syifa. Semburat rona merah menghiasi pipinya. Ditakupkannya kedua tangan di wajahnya.
       "Maksudmu?", Syifa belum paham apa yang Putri bicarakan.
       "Kamu jatuh cinta, kan? Apa kamu pikir kamu sudah siap jadi istri?", Putri menggenggam tangan Syifa, membuka telapak tangannya. "Coba lihat ini, kedua tangan ini, apakah siap menjadi tangan seorang istri?", belum juga pertanyaannya dijawab, Putri bertanya lagi sembari meletakan tangan Syifa menutupi motif bunga di jilbab yang menjulur di dadanya. "Ini juga, hati ini, apakah siap menjadi hati seorang istri? Kuat?. Fa, coba tahan dulu semuanya, tak usah gegabah bertindak. Puasalah. Sholatlah. Allah Yang Maha Membolak-balik Hati dan juga Meneguhkan hati"
         Syifa tertunduk, tak ada jawaban apapun darinya. Syifa takut. Entah apa yang ditakutkannya. Syifa ketakutan.