"Fa, jangan melamun lah, masih pagi juga", Putri menyenggol pundak Syifa. Syifa kaget, dengan cepat dilipatnya mukena yang baru saja dia pakai untuk sholat subuh. Tangannya memang lincah melipat mukena, tapi sorot matanya tak bisa berbohong bahwa hatinya sedang menari anggun.
"Put, kamu pernah nggak sih kepikiran pengen punya suami?", pertanyaan Syifa mengagetkan sahabatnya itu. Putri menghentikan langkah Syifa, menarik tangannya kemudian mengajaknya berbelok ke taman depan asrama.
"Coba diulang lagi pertanyaanmu", setelah duduk di bangku mungil Putri menatap lekat-lekat sosok Syifa. Ya, Putri merasa Syifa tak seperti biasanya. Sudah beberapa hari ini Syifa memang sering melamun dan senyum-senyum tanpa sebab, ada yang lain pula di sorot matanya.
"Kamu pernah nggak sih kepikiran pengen punya suami?", dengan santai Syifa mengulang pertanyaannya tadi. Syifa tidak sadar bahwa Putri sedang terheran-heran dengan sikapnya.
"Kamu butuh puasa, Fa. Yakin!", Putri menepuk-nepuk pipi Syifa. Semburat rona merah menghiasi pipinya. Ditakupkannya kedua tangan di wajahnya.
"Maksudmu?", Syifa belum paham apa yang Putri bicarakan.
"Kamu jatuh cinta, kan? Apa kamu pikir kamu sudah siap jadi istri?", Putri menggenggam tangan Syifa, membuka telapak tangannya. "Coba lihat ini, kedua tangan ini, apakah siap menjadi tangan seorang istri?", belum juga pertanyaannya dijawab, Putri bertanya lagi sembari meletakan tangan Syifa menutupi motif bunga di jilbab yang menjulur di dadanya. "Ini juga, hati ini, apakah siap menjadi hati seorang istri? Kuat?. Fa, coba tahan dulu semuanya, tak usah gegabah bertindak. Puasalah. Sholatlah. Allah Yang Maha Membolak-balik Hati dan juga Meneguhkan hati"
Syifa tertunduk, tak ada jawaban apapun darinya. Syifa takut. Entah apa yang ditakutkannya. Syifa ketakutan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar