Minggu, 26 Juni 2016

Diam Namun Terdengar

        Sekitar dua bulan Syifa berhenti merengek. Syifa tidak lagi menangis meminta untuk dinikahkan. Mulut Syifa diam, namun tangannya lah yang selalu bergerak. Dua bulan ini pula Syifa sering mengurung diri di kamar. Bukan untuk menangis (lagi), namun untuk menjahit. Syifa merasa tak punya apa-apa untuk membantu ayahnya menikahkannya. Syifa pun menyadari bahwa calon suaminya pun tak memiliki apa - apa, jangankan bongkahan emas berlian, piring dan gelas pun hanya punya satu dua saja. Syifa paham benar apa yang harus ia lakukan. 

           Setiap pagi, Syifa sibuk dengan potongan kain-kain kecil. Dibawanya potongan itu ke sekolah, di sela-sela istirahat, Syifa mencuri waktu untuk menjahitnya. Malam pun Syifa menjahit. Setiap kali mendapatkan rejeki, Syifa menyisihkannya untuk membeli kain lagi. Syifa bukan membuat baju. Syifa membuat gantungan kunci. Syifa tidak menjualnya. Syifa berencana mengemasnya dengan cantik dan membagikannya kepada tamu undangan di pernikahannya nanti. Ya, Syifa membuat sendiri souvenir pernikahan mereka, Syifa-Calon suami Syifa-Kakak Syifa-Calon istri kakak Syifa. Hingga akhirnya bulan Ramadhan kali ini Syifa sudah mendapatkan 350an buah. Itu berarti Syifa masih harus menjahit sekitar 150an lagi, hingga terkumpul 500 buah gantungan kunci. Seluruhnya hasil jahitan tangan Syifa dan dibantu adiknya yang baru saja diterima di SMP. 

        Tidak hanya itu, Syifa pun telah membawa 4 buah gamis ke penjahit, untuk dimodifikasi menjadi gamis seragam penjaga buku tamu di pernikahannya nanti. Ya, gamis berwarna merah muda berbahan velvet sutra, yang telah dibelinya setahun yang lalu dan masih terbungkus rapi di lemari. Syifa tidak mau acara pernikahannya nanti penuh dengan keseksian dan kevulgaran, Syifa ingin semua tertutup. Itu sebabnya Syifa harus cekatan mengatur semuanya, sebelum terdahului oleh sesepuh yang lain. 

       Ternyata ke"diam"an Syifa didengar baik oleh semuanya. Syifa tidak sengaja mendengar pembicaraan ibu dan kakaknya. "Sebelum Muharam nanti, kalian sudah harus menikah. Kalau lebih dari itu, acara resepsian tidak bareng dengan adikmu. Kasihan adikmu sudah lama menunggu". Meskipun ibu belum berbicara langsung pada Syifa, namun hati Syifa yang telah mengering itu seolah tersirami oleh sejuknya air hujan. 

         "Katakan padanya, Syawal ini datanglah kemari bersama walinya. Idul adha sebentar lagi, masih dua bulan lagi untuk mempersiapkan pernikahanmu". :) Syifa merasa seperti melayang di udara dan menari - nari bermandikan cahaya bintang. ^^ Begini kah rasanya mendengar jawaban atas sebuah penantian? Syifa menangis senang.


Sabtu, 27 Februari 2016

Syifa Gila

Pandangan mata Syifa mendadak kabur. Bukan karena Syifa hampir pingsan atau sekedar pening, tapi karena ia mencoba menahan air matanya yang hampir membanjiri kedua kelopak matanya. Syifa tak mampu lagi, Syifa lelah, Syifa ingin pergi saja di tempat yang jauhhhhh dan kembali ketika semuanya sudah siap. Ah.... Hati perempuan mana yang kuat terus-terusan menunggu tanpa ada kepastian, bahkan bukan pinangan lagi yang ia tunggu, tetapi justru kesiapan keluarganya menikahkannya. Bukankah itu lebih pedih daripada sekedar menunggu pinangan dari lelaki impian? Bukankah kebanyakan anak gadis disegerakan menikah jika dan hanya jika si calon suami adalah dari keluarga yang super kaya dan memiliki banyak uang untuk "membeli"nya? Bukankah banyak juga anak gadis yang meronta dalam batinnya karena lelaki pilihannya tidaklah sesuai dengan harapan orang tuanya dan selalu ditunda-tunda pernikahannya hanya karena ia tidak bisa "membeli"nya dengan sekarung uang? Duhai hati, usahlah memperbanyak tetesan air matamu.

Semakin hari hati Syifa makin lemah menanggung semuanya. Menanggung kerinduan yang jika saja mau sedikit nekat bisa saja ia bawa permasalahannya pada guru ngajinya dan memintanya mengurai benang yang tiada ujungnya ini. Entah dengan mendatangi dan melobi orang tuanya, entah dengan mengantarkan ke KUA, entah dengan apapun... Syifa memang sudah gila. Bahkan saking gilanya, setiap recehan yang ia dapat selalu ia hitung sekedar untuk membeli barang remeh temeh keperluan pernikahan. Bahkan sekedar map dan penjepit kertas untuk mengumpulkan berkas pendaftaran di KUA pun sudah ia siapkan berbulan-bulan yang lalu. Apalagi foto, sudah hampir njamur malahan saking lamanya. Ah, Syifa, kuatkanlah hatimu...

Tidak tanpa sebab Syifa mengerang dalam hati, hampir setiap hari Syifa merasa bersalah lantaran terlanjur jatuh hati dan parahnya lagi hatinya tak terselamatkan lantaran tidak segera dinikahkan. Tubuhnya bahkan tampak semakin kurus. Pernah suatu ketika temannya di tempat kerja menceritakan tentang prosesnya menuju pernikahan, bagaimana ia ditemukan dengan calon suaminya ketika lebaran, bagaimana beberapa hari kemudian ia dilamar, bagaimana seluruh keluarganya mengiyakan dan gegap gemita menyiapkan pernikahan, dan tiga bulan kemudian ia sudah menjadi seorang istri. Haiii bagaimana telinga Syifa tidak panas? Bagaimana hati Syifa tidak teriris? Bagaimana mata Syifa tidak menetes? Ah Syifa, sudahlah, ia dinikahkan secepat itu karena umurnya yang sudah 28. 28? Apa harus beda perlakuan dengan yang berumur 24 ini? Apa masalahnyaaaaaaaaaaaa..... Ah sudahlah. Mengapa tidak nekat saja. Toh sudah terlanjur gila.