Kamis, 31 Desember 2015

Menanti Agar Tak Di"nanti"kan Lagi

Layaknya seorang gadis yang rindu pernikahan, Syifa bertekad mempersiapkan apa-apa yang bisa ia persiapkan untuk pernikahannya nanti, meskipun ia masih tak tau kapan hari itu tiba. Libur panjang semester ini Syifa gunakan untuk menyulap kamarnya. Dinding kamar yang sudah terlalu banyak coretan itu kini berubah menjadi warna merah muda yang begitu lembut, dipadukan dengan cat kayu jendela yang berwarna hijau tua segar. Setiap orang yang memasuki kamar itu akan merasakan betapa si pemilik kamar tengah jatuh cinta dengan begitu lembut dan percaya diri. Tak hanya itu, Syifa pun telah membuat rak buku sederhana berbahan triplek, untuk mengatur buku dan barang-barangnya yang terserak di meja. Sebuah lemari bekas tampak berdiri tak jauh dari tempat tidur Syifa. Lemari itu ia ubah menjadi lemari baju gantung, hingga semua gamis panjangnya yang semula tergantung di seutas tali sekarang rapi tergantung di dalam lemari. Meskipun pintu lemari itu kini tinggal sebelah, Syifa begitu menyukainya. Sesaat sebelum mata Syifa terlelap setiap malam, yang ada di benak Syifa hanyalah bayangan kelak usai acara pernikahan Syifa dan suami Syifa akan nyaman menempati kamar itu, tak lagi banyak buku berantakan, tak lagi banyak baju tergantung sembarangan, tak lagi banyak coretan di tembok. Meskipun genting yang bocor masih tetap sama, karena Syifa tak tau bagaimana cara memperbaikinya. Sedangkan Syifa belum pernah melihat ada laki-laki di rumah ini yang pernah mencoba memperbaikinya. 

Di sudut kamar Syifa, ada setumpuk tisu makan yang sudah dibungkus dalam plastik. Tisu itu bukan lagi potongan dari warung. Setumpuk tisu itu sudah berbentuk bunga berwarna kombinasi putih dan merah muda. Ada sobekan kertas bertulikan angka di setiap bungkusan plastiknya. Mungkin, semua sudah 300an. Sudah berbulan-bulan tisu itu ada di sana. Tertumpuk rapi di samping sebuah amplop foto, berisikan foto paruh badan background biru. Di lemari pun sudah ada 4 gamis velvet sutra berwarna merah muda, Syifa membelinya untuk dikenakan oleh para penjaga buku tamu di pernikahannya kelak. Syifa tak mau di hari pernikahannya nanti para tamu disambut oleh kemolekan dan dandanan ala ondel-ondel.

Tak hanya itu, di dalam laptopnya pun sudah siap desain undangan yang setiap bulan selalu ia edit tanggal pernikahannya. Ada pula susunan panitia pernikahan, lengkap dengan jobdesk layaknya kepanitiaan kegiatan kampus. Ada pula denah tenda dan pelaminan. Syifa pun sudah menghubungi penyewaan gaun pengantin syar'i, menanyakan daftar harga dan akhirnya Syifa diperbolehkan sewa perdana, dalam artian ia memesan jahitan baru dua couple yang sama dan membayar separuh dari harga jahit. Betapa gilanya tindakan Syifa? Yang Syifa pikirkan hanya satu, jika kelak Kakak tak mau pernikahan sederhana tanpa resepsi, maka di acara resepsi Syifa tak mau mengenakan kebaya pengantin. Syifa akan sangat malu jika harus mengenakan kebaya, bukan hanya punggungnya yang akan memberontak namun juga semua rekan kerjanya yang hadir mungkin akan menganggapnya gila.
Jika saya Syifa tak mampu lagi menunggu, semua itu sudah siap ia gunakan sewaktu-waktu ia mau. Tinggal meminta surat pengantar dari desa, mendaftar di KUA, mengajak beberapa saksi, tasyakuran kecil-kecilan dengan makan di warung soto atau apalah. Pulang mampir warung beli roti dus, bagikan ke tetangga terdekat sembari mengabarkan berita pernikahan. Sudah. Ah, pikiran Syifa memang semakin hari semakin kacau. Mana mungkin ia melakukannya, akan ada banyak hati yang tersakiti, lebih baik hati Syifa saja yang tersakiti oleh penantian, asalkan semua senang. Biar saja Syifa mengalah. 

Ayah dan Ibu Syifa tak mungkin tak tau kegundahan hati anak gadisnya yang paling tua. Namun, Syifa pun tau kegundahan mereka, tentang banyaknya biaya pernikahan yang mereka bayangkan, tentang kakak dan calon istri kakak yang masih sekolah, tentang Syifa yang beberapa bulan ini menjadi sering sakit dan akrab dengan obat resep dokter. Syifa tak mau menyalahkan siapa pun. Setiap saat Syifa menanti, salah satu dari mereka, atau semuanya, datang padanya dan mengatakan sesuatu. Bahkan di setiap malam ketika Syifa terjaga dari tidurnya. Ya, setiap saat Syifa menanti, menanti agar pernikahannya tidak di"nanti"kan lagi, tidak nanti nanti nanti dan selalu nanti.


Senin, 28 Desember 2015

Masih Lamakah?

         "Mengapa tugas akhirmu tak jua selesai? Andai bisa aku membantu, pasti kulakukan. Tapi kau marah setiap kali aku bertanya tentang itu. Bukankah ayah ingin agar kita menikah sebelum keberangkatan ayah ke tanah suci? Waktumu tak lama. Atau, biarkan aku mendahului, dan kau di kemudian hari, sesukamu, sesantaimu. Aku takut aku tak mampu lagi menunggu. Masih lamakah?", tulis Syifa di secarik kertas kemudian ia lipat menjadi perahu dan terbawa arus sungai. Ia tak pernah berani mengungkapkannya, bahkan bertanya pada sang Ayah pun tak berani ia lakukan. Ia khawatir ayahnya akan marah seperti dulu saat Syifa mengutarakan maksud hatinya kesekian kali sebelum akhirnya sang Ayah mempersilakan menunggu satu tahun dan tiba-tiba ada kabar tentang pengkhitbahan yang dilakukan sang Kakak. Seperti inikah yang dialami setiap gadis yang ingin menikah? Rumit.



Kamis, 30 Juli 2015

Kabar Itu Seperti Bom Waktu

        Syifa terus menerus mengelus batinnya, ia tak mau ada yang tau bahwa ada banyak tetesan air mata yang ia bendung. Syifa duduk di bangku kedua, di samping jendela. Ia biarkan pandangan matanya menyapu habis seluruh pemandangan yang disuguhkan tepian jalan, hanya untuk mengalihkan perhatiaanya agar tak menumpahkan rasa. Sesekali ia mencoba tidur dan melupakan semuanya.

        "Nak, kau akan kami nikahkan bersamaan dengan kakakmu. Minggu depan kakakmu akan melamar seorang gadis jauh dari sini. Bersabarlah hingga kakakmu selesai kuliah, kalian akan menikah". Kabar itu seperti sebuah bom waktu untuk Syifa. Entah kapan mulanya sang Kakak ingin menikah, sementara setahun ini sang Kakak hanya menertawakan Syifa yang kebelet nikah, dan sekarang tiba-tiba pun ingin segera mengkhitbah. Ada gumpalan yang terasa perih di dalam dada Syifa. Bukan lantaran ia akan dinikahkan berbarengan bersama sang Kakak, bukan. Tapi, lantaran Syifa semakin tak mengerti kapan ia akan menikah. Bukankah sang Kakak belum juga selesai menulis proposal thesis? Belum lagi thesisnya? Belum tau kapan wisudanya? Belum tau kapan mendapatkan pekerjaan? Dulu ketika Syifa mengutarakan maksud hatinya pada sang ayah, Syifa dipersilakan menunggu satu tahun. Hingga setiap hari Syifa tak bosan mengeja kalender. Dan satu tahun itu tinggal beberapa bulan saja. "Allohurobbi..... Bisakah semua itu terjadi dalam rentang waktu dua atau tiga bulan saja?", batin Syifa memekik.


       Dan sekarang Syifa mengumpulkan seluruh kekuatannya untuk turut serta menemani sang Kakak mengkhitbah seorang gadis. Meskipun semalaman pipi Syifa basah oleh air mata di balik selimut, namun Syifa tak ingin semua itu tertumpah ketika prosesi khitbah dan penentuan hari pernikahan. 

      Calon istri sang Kakak sama seperti Kakak Syifa, seorang penuntut ilmu program pascasarjana. Meskipun Syifa pun pernah sempat lolos tes seleksi pascasarjana namun Syifa tak mau lagi menempuhnya, mimpi Syifa tak ada di sana. "Allohurobbi..... Calon istri Kakak baru saja diterima di pascasarjana, mungkinkah kami semua disegerakan menikah, sedangkan Kakak pun masih kuliah?", batin Syifa menjerit.

      "Wosipun, sowan kula sakaluwargi badhe nakyenaken bilih prunan kula menika estu badhe nglajengaken kekancan ing balekaluwargi, babagan titi wancinipun saged dipunrembag salajengipun ing sanes wedal", dua kalimat terakhir yang diucapkan sebelum akhirnya keluarga Syifa berpamit pulang kembali menembuh perjalanan 4 jam.


        Sepanjang perjalanan pulang, Syifa menghujamkan kata-kata do'a dalam hatinya, agar keajaiban terjadi. Kali ini Syifa bosan melihat kalender, tak seperti setahun belakangan.  Hati Syifa mengerak.

Jumat, 08 Mei 2015

Bolehkah Aku Jatuh Cinta, Sekarang?

Sepenggal tulisan di buku harian Syifa.... 



Aku manusia biasa. Maka aku berbatas rasa, bisa saja mati rasa, jika terlalu lama tenggelam dalam asa.

 "Kopiah renda hitam putih, koko gamis hijau tua, celana panjang bahan hitam, sendal sw*ll*w. Itu saja", kata Syifa perlahan sambil melemparkan pandangannya ke arah rerumputan liar yang telah menghiasi pelataran kecil itu.
"Lalu?", Nina seolah tak puas dengan jawaban sobat kecilnya itu.
"Entahlah. Aku tidak pernah merencakan untuk mencintainya. Semua terjadi begitu saja dan berulang-ulang dan semakin", Syifa menoleh ke arah Nina. Ditakupkannya kedua tangan di wajahnya.

 "Terngiang jelas suaranya ketika melantunkan adzan. Juga saat menjadi imam suatu waktu itu. Bukan aku sendiri yang mendengarnya, banyak, dan degub jantungku seperti dipacu kencang namun sejuk. Kau tau, aku rindu. Setahun berupaya, tapi mereka tetap saja tak mau tau", ucapnya sambil menyeka air mata yang gagal terbendung. Dari wajahnya, aku melihat guratan senyum di tengah air matanya. Kucegah tangannya menyeka seluruh air mata itu, biarlah mengalir seperti cintanya yang memuncah.

 Di kedalaman hatiku tersembunyi harapan yang suci, tak perlu engkau menyangsikan. Lewat kesalihanmu yang terukir menghiasi dirimu, tak perlu dengan kata-kata. Sungguh, walau kukelu tuk mengungkapkan perasaanku. Namun, penantianmu pada diriku, jangan salahkan. Kalau memang kau pilihkan aku, tunggu sampai aku datang nanti. Kubawa kau pergi ke syurga abadi. Kini belumlah saatnya aku membalas cintamu. Nantikanku dibatas waktu...
 
          Berbagai potongan kisah kutuliskan, hanya untuk mengungkapkan bahwa aku ingin menikah. Mungkin usia 23tahunku masih dianggap terlalu sedikit untuk dilepaskan di pelaminan. Betapa kedua orang tuaku menyayangi aku, mengkhawatirkan pabila aku kelak tak sebahagia ketika bersama mereka? Maka kutunjukan bahwa aku akan baik-baik saja, meski tanpa rumah yang besar, tanpa dapur yang luas, tanpa tempat tidur yang nyaman, bukankah aku tak pernah meminta kemewahan atas dasar kebahagiaan? Maka kutunjukan bahwa aku bukan anak kecil lagi. Tak lagi meminta uang untuk ini dan itu, tak lagi merengek ingin beli baju model terbaru, tak lagi malu untuk pergi kondangan sendiri, tak lagi malu untuk melayat takziyah sendiri, tak lagi malu untuk pergi rewang sendiri, tak lagi malu untuk berdiri di depan memimpin rapat organisasi, tak lagi malu untuk ke bengkel memperbaiki motor, apalah yang lain. Lihatlah, aku mampu, aku baik-baik saja. Secemas itukah akan diriku? Tak perlulah mengulur-ulur waktu, aku hanya takut aku tak mampu satu hal, menahan rasaku.

        Wahai hati yang bergemuruh, surutkan barang sebentar suaramu. Sudah terlalu banyak kau menulis, sudah terlalu lama kau berbicara, kini saatnya kau redam semuanya, hanya tinggal menunggu. Menunggu. Menunggu. Apa susahnya menunggu? Hingga kapan? Tak menentu.

       Ah, jika aku belum boleh menikah, maka bolehkah aku jatuh cinta, sekarang?

1 Januari 2014 - . . .
Mampukah menunggu (lebih lama lagi)?