Kamis, 30 Juli 2015

Kabar Itu Seperti Bom Waktu

        Syifa terus menerus mengelus batinnya, ia tak mau ada yang tau bahwa ada banyak tetesan air mata yang ia bendung. Syifa duduk di bangku kedua, di samping jendela. Ia biarkan pandangan matanya menyapu habis seluruh pemandangan yang disuguhkan tepian jalan, hanya untuk mengalihkan perhatiaanya agar tak menumpahkan rasa. Sesekali ia mencoba tidur dan melupakan semuanya.

        "Nak, kau akan kami nikahkan bersamaan dengan kakakmu. Minggu depan kakakmu akan melamar seorang gadis jauh dari sini. Bersabarlah hingga kakakmu selesai kuliah, kalian akan menikah". Kabar itu seperti sebuah bom waktu untuk Syifa. Entah kapan mulanya sang Kakak ingin menikah, sementara setahun ini sang Kakak hanya menertawakan Syifa yang kebelet nikah, dan sekarang tiba-tiba pun ingin segera mengkhitbah. Ada gumpalan yang terasa perih di dalam dada Syifa. Bukan lantaran ia akan dinikahkan berbarengan bersama sang Kakak, bukan. Tapi, lantaran Syifa semakin tak mengerti kapan ia akan menikah. Bukankah sang Kakak belum juga selesai menulis proposal thesis? Belum lagi thesisnya? Belum tau kapan wisudanya? Belum tau kapan mendapatkan pekerjaan? Dulu ketika Syifa mengutarakan maksud hatinya pada sang ayah, Syifa dipersilakan menunggu satu tahun. Hingga setiap hari Syifa tak bosan mengeja kalender. Dan satu tahun itu tinggal beberapa bulan saja. "Allohurobbi..... Bisakah semua itu terjadi dalam rentang waktu dua atau tiga bulan saja?", batin Syifa memekik.


       Dan sekarang Syifa mengumpulkan seluruh kekuatannya untuk turut serta menemani sang Kakak mengkhitbah seorang gadis. Meskipun semalaman pipi Syifa basah oleh air mata di balik selimut, namun Syifa tak ingin semua itu tertumpah ketika prosesi khitbah dan penentuan hari pernikahan. 

      Calon istri sang Kakak sama seperti Kakak Syifa, seorang penuntut ilmu program pascasarjana. Meskipun Syifa pun pernah sempat lolos tes seleksi pascasarjana namun Syifa tak mau lagi menempuhnya, mimpi Syifa tak ada di sana. "Allohurobbi..... Calon istri Kakak baru saja diterima di pascasarjana, mungkinkah kami semua disegerakan menikah, sedangkan Kakak pun masih kuliah?", batin Syifa menjerit.

      "Wosipun, sowan kula sakaluwargi badhe nakyenaken bilih prunan kula menika estu badhe nglajengaken kekancan ing balekaluwargi, babagan titi wancinipun saged dipunrembag salajengipun ing sanes wedal", dua kalimat terakhir yang diucapkan sebelum akhirnya keluarga Syifa berpamit pulang kembali menembuh perjalanan 4 jam.


        Sepanjang perjalanan pulang, Syifa menghujamkan kata-kata do'a dalam hatinya, agar keajaiban terjadi. Kali ini Syifa bosan melihat kalender, tak seperti setahun belakangan.  Hati Syifa mengerak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar