Sepenggal tulisan di buku harian Syifa....
Aku manusia biasa. Maka aku berbatas rasa, bisa saja mati rasa, jika terlalu lama tenggelam dalam asa.
"Kopiah renda hitam putih, koko gamis hijau tua, celana panjang bahan hitam, sendal sw*ll*w. Itu saja", kata Syifa perlahan sambil melemparkan pandangannya ke arah rerumputan liar yang telah menghiasi pelataran kecil itu.
"Lalu?", Nina seolah tak puas dengan jawaban sobat kecilnya itu.
"Entahlah. Aku tidak pernah merencakan untuk mencintainya. Semua terjadi begitu saja dan berulang-ulang dan semakin", Syifa menoleh ke arah Nina. Ditakupkannya kedua tangan di wajahnya.
"Terngiang jelas suaranya ketika melantunkan adzan. Juga saat menjadi imam suatu waktu itu. Bukan aku sendiri yang mendengarnya, banyak, dan degub jantungku seperti dipacu kencang namun sejuk. Kau tau, aku rindu. Setahun berupaya, tapi mereka tetap saja tak mau tau", ucapnya sambil menyeka air mata yang gagal terbendung. Dari wajahnya, aku melihat guratan senyum di tengah air matanya. Kucegah tangannya menyeka seluruh air mata itu, biarlah mengalir seperti cintanya yang memuncah.
Di kedalaman hatiku tersembunyi harapan yang suci, tak perlu engkau menyangsikan. Lewat kesalihanmu yang terukir menghiasi dirimu, tak perlu dengan kata-kata. Sungguh, walau kukelu tuk mengungkapkan perasaanku. Namun, penantianmu pada diriku, jangan salahkan. Kalau memang kau pilihkan aku, tunggu sampai aku datang nanti. Kubawa kau pergi ke syurga abadi. Kini belumlah saatnya aku membalas cintamu. Nantikanku dibatas waktu...
Berbagai potongan kisah kutuliskan, hanya untuk mengungkapkan bahwa aku ingin menikah. Mungkin usia 23tahunku masih dianggap terlalu sedikit untuk dilepaskan di pelaminan. Betapa kedua orang tuaku menyayangi aku, mengkhawatirkan pabila aku kelak tak sebahagia ketika bersama mereka? Maka kutunjukan bahwa aku akan baik-baik saja, meski tanpa rumah yang besar, tanpa dapur yang luas, tanpa tempat tidur yang nyaman, bukankah aku tak pernah meminta kemewahan atas dasar kebahagiaan? Maka kutunjukan bahwa aku bukan anak kecil lagi. Tak lagi meminta uang untuk ini dan itu, tak lagi merengek ingin beli baju model terbaru, tak lagi malu untuk pergi kondangan sendiri, tak lagi malu untuk melayat takziyah sendiri, tak lagi malu untuk pergi rewang sendiri, tak lagi malu untuk berdiri di depan memimpin rapat organisasi, tak lagi malu untuk ke bengkel memperbaiki motor, apalah yang lain. Lihatlah, aku mampu, aku baik-baik saja. Secemas itukah akan diriku? Tak perlulah mengulur-ulur waktu, aku hanya takut aku tak mampu satu hal, menahan rasaku.
Wahai hati yang bergemuruh, surutkan barang sebentar suaramu. Sudah terlalu banyak kau menulis, sudah terlalu lama kau berbicara, kini saatnya kau redam semuanya, hanya tinggal menunggu. Menunggu. Menunggu. Apa susahnya menunggu? Hingga kapan? Tak menentu.
Ah, jika aku belum boleh menikah, maka bolehkah aku jatuh cinta, sekarang?
1 Januari 2014 - . . .
Mampukah menunggu (lebih lama lagi)?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar