Sabtu, 27 Februari 2016

Syifa Gila

Pandangan mata Syifa mendadak kabur. Bukan karena Syifa hampir pingsan atau sekedar pening, tapi karena ia mencoba menahan air matanya yang hampir membanjiri kedua kelopak matanya. Syifa tak mampu lagi, Syifa lelah, Syifa ingin pergi saja di tempat yang jauhhhhh dan kembali ketika semuanya sudah siap. Ah.... Hati perempuan mana yang kuat terus-terusan menunggu tanpa ada kepastian, bahkan bukan pinangan lagi yang ia tunggu, tetapi justru kesiapan keluarganya menikahkannya. Bukankah itu lebih pedih daripada sekedar menunggu pinangan dari lelaki impian? Bukankah kebanyakan anak gadis disegerakan menikah jika dan hanya jika si calon suami adalah dari keluarga yang super kaya dan memiliki banyak uang untuk "membeli"nya? Bukankah banyak juga anak gadis yang meronta dalam batinnya karena lelaki pilihannya tidaklah sesuai dengan harapan orang tuanya dan selalu ditunda-tunda pernikahannya hanya karena ia tidak bisa "membeli"nya dengan sekarung uang? Duhai hati, usahlah memperbanyak tetesan air matamu.

Semakin hari hati Syifa makin lemah menanggung semuanya. Menanggung kerinduan yang jika saja mau sedikit nekat bisa saja ia bawa permasalahannya pada guru ngajinya dan memintanya mengurai benang yang tiada ujungnya ini. Entah dengan mendatangi dan melobi orang tuanya, entah dengan mengantarkan ke KUA, entah dengan apapun... Syifa memang sudah gila. Bahkan saking gilanya, setiap recehan yang ia dapat selalu ia hitung sekedar untuk membeli barang remeh temeh keperluan pernikahan. Bahkan sekedar map dan penjepit kertas untuk mengumpulkan berkas pendaftaran di KUA pun sudah ia siapkan berbulan-bulan yang lalu. Apalagi foto, sudah hampir njamur malahan saking lamanya. Ah, Syifa, kuatkanlah hatimu...

Tidak tanpa sebab Syifa mengerang dalam hati, hampir setiap hari Syifa merasa bersalah lantaran terlanjur jatuh hati dan parahnya lagi hatinya tak terselamatkan lantaran tidak segera dinikahkan. Tubuhnya bahkan tampak semakin kurus. Pernah suatu ketika temannya di tempat kerja menceritakan tentang prosesnya menuju pernikahan, bagaimana ia ditemukan dengan calon suaminya ketika lebaran, bagaimana beberapa hari kemudian ia dilamar, bagaimana seluruh keluarganya mengiyakan dan gegap gemita menyiapkan pernikahan, dan tiga bulan kemudian ia sudah menjadi seorang istri. Haiii bagaimana telinga Syifa tidak panas? Bagaimana hati Syifa tidak teriris? Bagaimana mata Syifa tidak menetes? Ah Syifa, sudahlah, ia dinikahkan secepat itu karena umurnya yang sudah 28. 28? Apa harus beda perlakuan dengan yang berumur 24 ini? Apa masalahnyaaaaaaaaaaaa..... Ah sudahlah. Mengapa tidak nekat saja. Toh sudah terlanjur gila.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar