Matahari perlahan berenang di ufuk timur, sementara kicauan burung pipit di sawah semakin enggan terdengar. Entah karena sudah tak ingin berkicau atau justru takut melihat seorang lelaki berlari di pematang sawah.
Lelaki itu berhenti tepat di bawah pohon munggur tengah sawah. Seekor burung emprit mengepakkan sayap meninggalkan pohon itu, di susul beberapa burung lain. Lelaki itu menyandarkan tubuhnya di pohon munggur, pohon yang limabelas taun yang lalu menjadi tempat bermainnya bersama teman-temannya. Matanya menerawang jauh, menikmati berkas sinar mentari yang menerpa wajahnya.
"Kiiiiii....! Ngapain kamu di situu?!!", tiba - tiba terdengar suara memanggilnya. Lelaki itu hanya menengok, membiarkan si pemilik suara tadi berlari ke arahnya.
"Ngapain di sini? Kamu mau bunuh diri?", tanya si pemilik suara tadi sambil terengah-engah.
"Bunuh diri?", lelaki itu bingung.
"Kamu mau naik ke pohon, terus kamu loncat, itu di sana banyak sumur. Iyaa??", suara itu sedikit berubah, meskipun dengan kalimat yang sama. Ya, limabelas taun yang lalu ia paling sering mengucapkan kalimat itu, hanya untuk meminta Fikri turun dari pohon.
Fikri tersenyum. Dipandangi wajah sosok di depannya itu. Ah, masih polos, sama seperti dulu.
"Heiii, malah bengong! Piki baik-baik aja?", pandangannya dibuyarkan oleh tepukan di pipinya.
Fikri kembali tersenyum. "Fa, sampai kapan aku harus menunggu?", Fikri memasang wajah serius.
"Menunggu apa?"
"Meminangmu", Fikri melemparkan pandangannya ke hamparan sawah, dimana dulu ia sering bersama kakeknya membersihkan rerumputan di antara batang padi milik tetangga. Semua berakhir ketika sang kakek meninggal saat Fikri mengenakan seragam biru putih. Fikri tak punya siapa-siapa lagi, entah dimana kedua orang tuanya, ia tak pernah tau.
"Piki, emm... Fikri, maafkan aku. Bukan karena aku tak mau denganmu. Orang tuakuuuu..."
"Ssstt.... apakah kau mencintaiku?"
"Apa harus kujawab? Sedangkan aku selalu kewalahan untuk tidak merasakan itu"
"Tapi aku tak punya apa - apa"
"Aku tak meminta apa - apa"
"Aku hanyalah....."
"Kamu ragu dengan ketentuan Allah?"
"Realistis lah, Fa... Aku benci keadaanku"
"Adakah yang lebih realistis daripada ketentuan Allah? Temui lagi orang tuaku"
"Butuh waktu, hanya saja hatiku....."
"Bersegeralah. Jika kita tak bisa berhenti mencintai, bersegeralah, atau kita hanya akan menabung keburukan dan membiarkan fitnah membunuh kita"
Entah apa yang diperbincangkan lagi. Tak ada yang tau. Keduanya seolah tak saling bicara, seperti burung emprit yang semakin enggan berkicau, entah karena takut atau apa. Atau justru keduanya saling berbicara, hanya saja tak ada yang mendengar, hati mereka punya bahasa sendiri. Ya, bahasa yang tak didengar oleh orang lain, bahasa yang tak dimengerti orang lain, bahasa yang tidak membutuhkan aksara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar