Kurasa, sudah terlalu lama aku berpetualang dalam duniaku sendiri.
Bergelut pada lembaran-lembaran tugas kuliah, merapal notasi gending
jawa beserta tembang macapatnya, menulis puisi untuk ditreatrikalkan
dalam pentas tahunan, mengirim beberapa naskah dan dimuat di majalah
lokal, mengikuti beberapa perlombaan dan menambah koleksi tropi di atas
lemari meski banyak yang mulai berkarat, membuat kisah suka-duka bersama
sahabat-sahabatku, menggila di kosan dengan mengajak anak-anak kecil
belajar di kamar dan membuat gaduh hingga dinding triplek jebol,
begadang nonton film ketika sudah suntuk mengerjakan proposal skripsi
kemudian gelapan ngeprin di pagi buta dengan printer yang bersuara
seperti mesin gergaji, mengantuk menunggu dosen pembimbing, mengayuh
sepeda 1jam dari pasar sepeda bekas hingga kosan, pontang-panting
hunting dosen pembimbing yang loncat kesana-kemari, dianggap mustahil
ketika mengutarakan ganti penelitian, nervous di hari ujian gara-gara kebanyakan makan lotek pedas sejam
sebelum ujian dan lidahku masih terasa panas, memaparkan semua hasil
penelitian dan mengisahkan perjalanan penelitianku layaknya seorang anak
yang sedang menceritakan permainannya seharian kepada ayah-ibunya, mendapat nilai memuaskan ketika lulus, bersikeras tidak mau pakai kebaya di hari wisuda, dibelikan seperangkat make-up untuk belajar bersolek, di pagi buta saat teman-teman kos masih terlelap usai sholat subuh aku bersolek alias berdandan sendiri untuk menghadiri wisuda....
Ah, terlalu banyak jika harus dikisahkan seluruhnya. Aku rasa, usai melepas toga dan mengembalikannya di kampus, ada sisi kehidupanku yang baru dimulai. Teman-temanku sudah mendapatkan pekerjaan mereka. Kesana-kemari berpenampilan modis atas hasil kerja mereka. Berfoto bersama ketika makan di restoran, rumah makan ternama, atau berwisata ke ini dan itu. Kurasa, aku tak mengalaminya. Atau, aku hampir akan mengalaminya? Ah, saat itu, yang ada di pikiranku hanya satu. Aku ingin menikah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar